Home » Berita » Densus 88: Jaringan Terorisme di Sumut Sangat Aktif, Rakor Antar Aparat Penegak Harus Kontinyu

Densus 88: Jaringan Terorisme di Sumut Sangat Aktif, Rakor Antar Aparat Penegak Harus Kontinyu

Medan – Jaringan terorisme di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) sangat aktif melakukan koordinasi, dan kolaborasi dengan kelompok lain. Karena itu Rapat Koordinasi (Rakor) Antar Aparat Penegak Hukum Dalam Penanganan Perkara Tindak Pidana Terorisme di Provinsi Sumatera Utara di Hotel Grand Aston, Medan, Kamis (30/1/2020), sangat tepat untuk memperkuat sinergi dalam menangani berbagai kemungkinan terjadinya aksi terorisme.

“Kegiatan BNPT ini sangat bermanfaat dalam penanggulangan terorisme. Kami dari Densus 88 Antiteror sangat mengapresiasi kegiatan ini. Mohon kiranya ini secara kontinyu ke seluruh provinsi, kalau bisa dilakukan sebulan sekali. Karena institusi yang terlibat seperti dari TNI, Polri, Kejagung, Pengailan, Lapas, MA, dan Kementerian Agama (Kemang) sangat memerlukan kebersamaan seperti ini dalam mencegah dan menanggulangi radikalisme dan terorisme,” kata Analis Utama Intelijen Densus 88 Mabes Polri Brigjen Pol Ibnu Suhendra, SIK, menjadi narasumber Rakor tersebut.

Ibnu menilai, jaringan terorisme di Sumut telah melakukan beberapa serangan teror dan mereka melakukan dengan sangat terstruktur. Penyerangan Polsek Hamparan Perak, bom bunuh diri Polrestabes Medan, penyerangan pos jaga Mapolda Sumut dimana para teroris menggorok petugas jaga.

“Ini sangat memprihatinkan. Artinya jaringan teroris di Sumut ini sangat aktif melakukan koordinasi, kolaborasi, dengan kelompok lain. Ini harus kita cegah dan kita redam, agar aksi teror di Sumut tidak terjadi lagi,” imbuh jebolan Akpol 1993 ini.

Tidak hanya aparat penegak hukum, Ibnu juga menegaskan pentingnya implementasi pelaksaan pencegahan dan penanggulangan terorisme di lapangan. Dalam hal ini, ia menilai peran masyarakat sangat penting untuk membantu aparat, terutama dalam melakukan deteksi dini.

“Kita punya jaringan sampai ke ranting di desa-desa hingga ke RT dan RW. Seperti bapak-bapak Bhabin Kamtibmas yang bisa dimonitor dan dikoordinasikan para Kapolres serta bapak-bapak Babinsa yang dikoordinasikan para Dandim di seluruh Sumut. Kolaborasi aparat dan masyarakat ini akan menjadi kekuatan untuk mencegah radikalisme dan terorisme di setiap wilayah,” terang mantan Direktur Intelijen Densus 88 ini.

Analis Utama Intelijen Densus 88 Mabes Polri Brigjen Pol Ibnu Suhendra, SIK

Pada kesempatan itu, Brigjen Ibnu juga memaparkan perkembangan jaringan terorisme secara global. Ia mengungkapkan, radikalisme dan terorisme itu ada di seluruh agama, bukan di salah agama. Contohnya, beberapa kejadian teror di luar negeri seperti pengeboman gedung federal markas besar FBI yang dilakukan pengikut agama Protestan. Pengeboman mantan Perdana Menteri India, Razif Gandhi dan Indira Gandhi juga dilakukan pelaku beragama Hindu Singh. Kemudian pelaku beragama Sinto melakukan pengeboman dengan gas kimia di kereta bawah tanah di Jepang. Juga kasus bom di Irlandia yang dilakukan kelompok Katolik.

Ia mengungkapkan, saat ini dari Global Terrorism Index, Indonesia sekarang ini menjadi negara terdampak terorisme nomer 35 di dunia, sementara Afghanistan menempati peringkat pertama. Angka itu lebih tinggi dari peringkat sebelumnya 42. Itu artinya dalam beberapa waktu terakhir ancaman terorisme di Indonesia meningkat.

“Kita harus menjauh dari angka kecil. Pasalnya kalau rangking itu mendekat ke angka kecil, artinya serangan teror meningkat. Itu harus kita antisipasi,” tukasnya.

Apalagi seruan-seruan tokoh ISIS masih terus terjadi, meski dedengkotnya Abu Bakar Al-Baghdadi telah tewas. Ironisnya seruan kalau dulu mereka mengajak orang untuk berjihad ke Suriah, kini mereka justru menyerukan kepada anggotanya untuk melakukan amaliah di negaranya masing-masing.

About Agus Gombol

Staf Jurnalis, Pusat Media Damai (PMD-BNPT)